Posted by: pgobang | September 6, 2009

Flores… Jejak Portugis di Pulau Naga (1)

Landscape ujung barat Flores, Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat

Landscape ujung barat Flores, Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat

Hampir seluruh dasar laut pulau itu dipenuhi terumbu karang warna-warni, beserta aneka ragam satwa laut yang juga kaya warna. Bersih dan bening, di beberapa area yang dangkal semburat hijau tosca menyembul di sela-sela kemilau biru samudera, berhias taburan batu granit dan karang berwarna perak disiram ombak yang membuih di bentangan pasir putih. Indah bak permata… Cantik tiada tara…!

Ketakjuban akan pesona alam itulah yang mengilhami para pelaut Portugis menyebut pulau yang baru disinggahi, sekitar awal abad ke-15 silam, sebagai Cabo da Flores. Ketika itu, para pelaut Portugis yang berlayar dari Macao (Malaka) singgah di Tanjung Bungan, ujung timur Pulau Flores sekarang. Tanjung Bungan dalam bahasa setempat berarti Tanjung Indah, untuk melukiskan keindahan fauna dan taman laut di tanjung itu.

Terumbu karang di teluk Maumere, Kabupaten Sikka

Terumbu karang di teluk Maumere, Kabupaten Sikka

Karena terpesona oleh keindahannya, pelaut de Elcano (catatan lain menyebut SM Cabot) menerjemahkan kata bunga(n) menjadi flores, maka dinamakan Cabo da Flores atau Tanjung Bunga(n). Sejak saat itu, nama pulau yang terletak di sebelah utara lautan Hindia dan Pasifik itu dikenal dengan nama Flores, yang terdengar janggal bagi telinga orang Melayu. Nama itu kemudian dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer.

Kampung tradisional Wolowaru, Kabupaten Ende

Kampung tradisional Wolowaru, Kabupaten Ende

Menurut antropolog Pater Piet Petu SVD dalam bukunya Nusa Nipa, Nama Pribumi Nusa Flores Warisan Purba (1969), jauh sebelum kedatangan para pelaut Portugis, pulau ini sudah memiliki nama pribumi sendiri. Orang Manggarai menyebut Nuca Nepa Lale (Pulau Ular/Naga yang Indah). Orang Ngada dan Ende menamai Nusa Nipa, dan orang Sikka menyebut Nuhan Nagasawaria. Bagi orang Larantuka menamai Nuha Ula Bungan (Pulau Ular/Naga yang Suci). Semua sebutan itu melukiskan pulau ini sebagai Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular atau Pulau Naga. Alasan penyebutan Nusa Nipa karena di pulau ini banyak dijumpai ular. Bila mengamati peta pulau ini, segera tampak gambaran seekor ular/naga yang sedang tidur, dengan kepala di ujung timur (Tanjung Bunga/Larantuka) dan badan/ekor yang melilit di ujung barat (Manggarai).

Seorang wanita penenun tradisional di Maumere, Kabupaten Sikka

Seorang wanita penenun tradisional di Maumere, Kabupaten Sikka

Nenek moyang pulau ini mempunyai keyakinan, jika seseorang bertemu ular atau didatangi ular, maka ia akan memperoleh rezeki. Bahkan, ular dianggap sebagai dewa atau titisan arwah leluhur oleh marga tertentu. Oleh karena itu, sampai sekarang masih dipegang kepercayaan jika ular memasuki rumah atau berhenti di ladang, maka oleh tuan rumah atau pemilik ladang tak akan diusir, dilukai, atau dibunuh. Sebaliknya, ular itu akan dibentangkan sarung serta dihidangkan makanan berupa telur dan beras mentah. Konon hingga kini, sesewaktu masih dijumpai ular/naga sebesar dan sepanjang batang pohon kelapa yang melintasi jalan di suatu areal pegunungan atau hutan yang lebat.

Peledang/perahu nelayan tradisional yang digunakan untuk menangkap ikan paus di Desa Lamalera, Kabupaten Lembata

Peledang/perahu nelayan tradisional yang digunakan untuk menangkap ikan paus di Desa Lamalera, Kabupaten Lembata

Menurut para tetua adat setempat, nama pribumi Nusa Nipa tersebut memberi daya magis tersendiri bagi masyarakatnya dengan karakter pemberani, gagah, perkasa, cerdas, gesit dan lincah ketika menjelajahi wilayah pegunungan yang terjal dengan sungai yang berkelok-kelok mengitari deretan perbukitan atau mengarungi hamparan lautan luas dengan pusaran gelombang yang menantang sekaligus menyimpan taman laut yang menawan.

Itulah sebabnya pernah muncul wacana di kalangan pemerhati kebudayaan lokal untuk mengembalikan nama pulau itu ke nama pribuminya, Nusa Nipa. Alasannya, nama Flores yang sudah hidup hampir lima abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan flora yang dikandung oleh pulau ini. Selain itu, nama Flores dirasa lebih berkesan halus, lembut, indah, tapi kurang ”berenergi”. Kesan indahnya nama Flores, menurut para pemerhati kebudayaan lokal tersebut, secara sosial-psikologis telah memberi gambaran masyarakat yang cenderung lembut dan indah tapi kurang berkarakter pemberani, gagah, perkasa, cerdas, gesit dan lincah seperti gambaran sosok para leluhur Nusa Nipa dahulu, sebagaimana dilukiskan dalam berbagai legenda rakyat setempat. Dari sudut antropologi, nama Nusa Nipa mengandung berbagai makna filosofis, kultural dan ritual masyarakatnya.

Prosesi Jumat Agung "Semana Santa" di Larantuka, Kabupaten Flores Timur

Prosesi Jumat Agung "Semana Santa" di Larantuka, Kabupaten Flores Timur

Sebelum bernama Flores, Nusa Nipa sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Posisinya cukup strategis karena menjadi jalur lintasan perdagangan kayu cendana dari Pulau Timor ke Cina dan ke India. Hal ini membuat Kerajaan Gowa, Kerajaan Ternate, Bangsa Portugis, Belanda dan Jepang berebut untuk menguasai pulau ini. Namun, tak satu pun di antara mereka benar-benar berhasil menaklukkan para raja atau kapitan yang menguasai suatu wilayah setempat.

Para pendatang tersebut berusaha menanamkan pengaruhnya di wilayah pesisir, tetapi hanya sedikit yang dapat menyentuh daerah pedalaman karena terhalang oleh deretan pegunungan terjal dengan sungai yang berkelok-kelok di dasarnya. Kini daerah pedalaman Flores sudah lebih mudah dicapai dengan adanya jalan yang naik-turun membelah gunung dan berkelok-kelok mengitari perbukitan dengan tebing yang menjulang tinggi di satu sisi dan di sisi lainnya terbentang jurang dengan kedalaman puluhan meter. Sungguh sebuah perjalanan yang fantastik bagi mereka yang gemar berpetualang.

Pagi yang cerah di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat

Pagi yang cerah di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat

Lukisan Alam

Flores berada dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan luas wilayah 14.300 kilometer persegi.

Varanus Komodoensis, reptil purba raksasa, Pulau Komodo

Varanus Komodoensis, reptil purba raksasa, Pulau Komodo

Beberapa ikon pariwisata di Flores antara lain: Varanus Komodoensis di Kabupaten Manggarai Barat (termasuk Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo dan Pulau Rinca), taman laut 17 pulau di Riung dan perkampungan tradisional Bena di  Kabupaten Ngada, danau tiga warna Kelimutu (Taman Nasional Kelimutu) di Kabupaten Ende, taman laut Waiara Maumere di Kabupaten Sikka, tradisi religi Portugis “Semana Santa” di Larantuka Kabupaten Flores Timur, dan tradisi penagkapan ikan paus di Lamalera Kabupaten Lembata. Selain itu terdapat berbagai situs, artefak, tradisi maupun panorama alam yang dapat dinimati di berbagai daerah Flores.

Danau Tiga Warna Kelimutu, Kabupaten Ende

Danau Tiga Warna Kelimutu, Kabupaten Ende

Misalnya, panorama alam perbukitan yang hijau dan teduh pada musim hujan akan segera berganti dengan sabana yang menguning kecoklatan pada suatu siklus kemarau yang panjang. Namun, kehangatan dan keramahan masyarakat dari etnik campuran Melayu, Melanesia, dan Portugis serta decak kagum akan keindahan alamnya seakan silih berganti mengiringi perjalanan menjelajahi pulau sepanjang 375 km ini. Sebuah lukisan alam dan kebudayaan yang menakjubkan, dari timur hingga ke barat atau sebaliknya! (Bersambung)

Foto-foto dari koleksi pribadi & berbagai sumber di www.google.com

Sunset di gading beach Maumere, Kabupaten Sikka

Sunset di gading beach Maumere, Kabupaten Sikka

Posted by: pgobang | March 27, 2008

KREATIVITAS SOSIAL DAN PEMBANGUNAN

Pembangunan di Indonesia harus melibatkan dan mempertimbangkan banyak pemangku kepentingan dan kepentingan rakyat banyak. Pembangunan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat yang dipimpin oleh pemimpin yang mau melayani yang pemimpin yang visioner.  Skolar renaissance yang mengetahui segala sesuatu sudah tidak ada lagi. Individu yang berpikir seorang diri pasti memiliki keterbatasan. Individu-individu yang hebat dengan keunikan masing-masing, bakat dan talenta masing-masing akan membawa pada kelompok atau komunitas yang hebat pula. Komunitas yang hebat dan hidup, tumbuh dan berkembang, adalah komunitas hasil interaksi produktif individu-individu di dalam komunitas atau individu-individu yang berasal dari komunitas berbeda, yang saling membagi dan mentransfer pengetahuannya dan praktik-praktik usaha atau pembangunan yang unggul.

Seperti halnya sebuah negara dapat dipandang sebagai satu komunitas. Sebuah negara pun dapat dipandang sebagai terdiri dari banyak komunitas. Sebuah lingkup masyarakat yang menjadi perhatian atau sedang diperhatikan perkembangannya dapat kita sebut juga sebagai satu komunitas. Kemungkinan terjadinya komunitas yang hebat tersebut adalah hasil dari interaksi individu-individu yang disertai dengan adanya saling menghargai, empati, keterlibatan yang meningkatkan keterlibatan dalam interaksi sosial dan praktik atau tindakan-tindakan membangun satu sama lain dan membangun komunitas. Pada tingkatan ini, negara dan komunitas dapat menghilangkan adanya suatu pengabaian yang simetris (symmetry of ignorance). Dan bila ada pengabaian yang simetris, ia harus dilihat sebagai peluang untuk muncul dan timbulnya pengetahuan yang komunal dan sistemik karena tidak seorang pun pemangku kepentingan yang sedang memecahkan masalah kompleks dapat menjamin bahwa pengetahuan mereka lebih baik atau lebih lengkap daripada pengetahuan orang-orang lain.

Untuk mengatasi pengabaian yang simetris, aktifkan sebanyak mungkin pengetahuan dari sebanyak mungkin pemangku kepentingan (stakeholders) dengan tujuan untuk mencapai pendidikan bersama dan pemahaman bersama, pemahaman yang memasyarakat.

Tak seorang pun dari kita sepandai semua dari kita. Inilah dan di sinilah pentingnya kreativitas sosial. Semakin tinggi kreativitas sosial, semakin banyak potensi individu dan komunitas terkuak dan semakin laju jalannya pembangunan. Salah satu prinsip dalam menatakelola inovasi adalah bahwa inovasi dipicu oleh kreativitas. Kreativitas sosial akan memicu terjadinya inovasi-inovasi tingkat komunitas yang menggerakkan jalannya pembangunan yang membuat hidup manusia yang lebih baik di dunia yang lebih baik…mengambil paradigma pembangunan yang lebih manusiawi (people-centered development), ramah lingkungan, dan dengan organisasi pembangunan yang bersih dan berwibawa.

Betapa indahnya bilamana pembangunan terdiri dari inovasi-inovasi dalam segala tingkat mulai dari individu, organisasi, komunitas, negara, bangsa, dunia…[PG]*

*Phillip Gobang adalah peneliti & penulis bidang Sosial-Budaya & Politik. Ia mengangkat kreativitas sosial (social creativity) dan pembangunan sebagai tema besar dan fokus tulisan-tulisan dalam weblog http://pgobang.wordpress.com ini.

Posted by: pgobang | March 27, 2008

Hello world!

DSCF6828-A

Welcome to pgobang’s Weblog on Social Creativity & Development at http://pgobang.WordPress.com/

Phillip mengangkat kreativitas sosial (social creativity) dan pembangunan sebagai tema besar dan fokus tulisan-tulisannya dalam weblog ini.*

Silahkan memberi masukan, komentar, catatan atau mengajukan pertanyaan atas artikel-artikel di Weblog ini.

Terimakasih. [PG]

Categories